Sabtu, 31 Juli 2010


Jumat, 26 Februari 2010

Sejarahnya tuh berawal dari kalahnya orang-orang jepang pada tahun 1944, nah karena terus-menerus terdesak pada tanggal 29 April 1945 jepang memberikan janji kemerdekaan buat negara kita tercinta ini..pada saat itu pula BPUPKI dibentuk...BPUPKI mengadakan sidang pertamanya pada tanggal 29 Mei 1945 - 1 Juni 1945... nah dalam sidang inilah dasar negara kita mulai dibicarakan 2 orang diantara para pembicaranya adalah M. Yamin dan Bung Karno yang masing-masing mengusulkan calon dasar negara untuk Indonesia merdeka.



Muhammad Yamin mengajukan usul mengenai dasar negara secara lisan yang terdiri atas lima hal, yaitu:

1. Peri Kebangsaan
2. Peri Kemanusiaan
3. Peri Ketuhanan
4. Peri Kerakyatan
5. Kesejahteraan Rakyat

Selain itu Muhammad Yamin juga mengajukan usul secara tertulis yang juga terdiri atas lima hal, yaitu:
1. Ketuhanan Yang Maha Esa
2. Persatuan Indonesia
3. Rasa Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab
4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan
dalam Permusyawaratan/Perwakilan
5. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Usulan ini diajukan pada tanggal 29 Mei 1945, kemudian pada tanggal 1 Juni 1945, Bung Karno mengajukan usul mengenai calon dasar negara yang terdiri atas lima hal, yaitu:
1. Nasionalisme (Kebangsaan Indonesia)
2. Internasionalisme (Perikemanusiaan)
3. Mufakat atau Demokrasi
4. Kesejahteraan Sosial
5. Ketuhanan yang Berkebudayaan

Kelima hal ini oleh Bung Karno diberi nama Pancasila. Lebih lanjut Bung Karno mengemukakan bahwa kelima sila tersebut dapat diperas menjadi Trisila, yaitu:
1. Sosio nasionalisme
2. Sosio demokrasi
3. Ketuhanan

Berikutnya tiga hal ini menurutnya juga dapat diperas menjadi Ekasila yaitu Gotong Royong.

Selesai sidang pertama, pada tanggal 1 Juni 1945 para anggota BPUPKI sepakat untuk membentuk sebuah panitia kecil yang tugasnya adalah menampung usul-usul yang masuk dan memeriksanya serta melaporkan kepada sidang pleno BPUPKI. Tiap-tiap anggota diberi kesempatan mengajukan usul secara tertulis paling lambat sampai dengan tanggal 20 Juni 1945. Adapun anggota panitia kecil ini terdiri atas delapan orang, yaitu:
1. Ir. Soekarno
2. Ki Bagus Hadikusumo
3. K.H. Wachid Hasjim
4. Mr. Muh. Yamin
5. M. Sutardjo Kartohadikusumo
6. Mr. A.A. Maramis
7. R. Otto Iskandar Dinata
8. Drs. Muh. Hatta

Pada tanggal 22 Juni 1945 diadakan rapat gabungan antara Panitia Kecil, dengan para anggota BPUPKI yang berdomisili di Jakarta. Hasil yang dicapai antara lain disetujuinya dibentuknya sebuah Panitia Kecil Penyelidik Usul-Usul/Perumus Dasar Negara, yang terdiri atas sembilan orang, yaitu:
1. Ir. Soekarno
2. Drs. Muh. Hatta
3. Mr. A.A. Maramis
4. K.H. Wachid Hasyim
5. Abdul Kahar Muzakkir
6. Abikusno Tjokrosujoso
7. H. Agus Salim
8. Mr. Ahmad Subardjo
9. Mr. Muh. Yamin

Panitia Kecil yang beranggotakan sembilan orang ini pada tanggal itu juga melanjutkan sidang dan berhasil merumuskan calon Mukadimah Hukum Dasar, yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan “Piagam Jakarta”.

Dalam sidang BPUPKI kedua, tanggal 10-16 juli 1945, hasil yang dicapai adalah merumuskan rancangan Hukum Dasar. Sejarah berjalan terus. Pada tanggal 9 Agustus dibentuk Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Pada tanggal 15 Agustus 1945 Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu, dan sejak saat itu Indonesia kosong dari kekuasaan. Keadaan tersebut dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh para pemimpin bangsa Indonesia, yaitu dengan memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, pada tanggal 17 Agustus 1945. Sehari setelah proklamasi kemerdekaan PPKI mengadakan sidang, dengan acara utama (1) mengesahkan rancangan Hukum Dasar dengan preambulnya (Pembukaannya) dan (2) memilih Presiden dan Wakil Presiden.

Untuk pengesahan Preambul, terjadi proses yang cukup panjang. Sebelum mengesahkan Preambul, Bung Hatta terlebih dahulu mengemukakan bahwa pada tanggal 17 Agustus 1945 sore hari, sesaat setelah Proklamasi Kemerdekaan, ada utusan dari Indonesia bagian Timur yang menemuinya.

Intinya, rakyat Indonesia bagian Timur mengusulkan agar pada alinea keempat preambul, di belakang kata “ketuhanan” yang berbunyi “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” dihapus. Jika tidak maka rakyat Indonesia bagian Timur lebih baik memisahkan diri dari negara RI yang baru saja diproklamasikan. Usul ini oleh Muh. Hatta disampaikan kepada sidang pleno PPKI, khususnya kepada para anggota tokoh-tokoh Islam, antara lain kepada Ki Bagus Hadikusumo, KH. Wakhid Hasyim dan Teuku Muh. Hasan. Muh. Hatta berusaha meyakinkan tokoh-tokoh Islam, demi persatuan dan kesatuan bangsa.

Oleh karena pendekatan yang terus-menerus dan demi persatuan dan kesatuan, mengingat Indonesia baru saja merdeka, akhirnya tokoh-tokoh Islam itu merelakan dicoretnya “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” di belakang kata Ketuhanan dan diganti dengan “Yang Maha Esa”. Adapun bunyi pembukaan UUD 1945 Seperti yang sudah kita ketahui waktu di sekolah dulu adalah sebagai berikut

UNDANG-UNDANG DASAR
NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945
PEMBUKAAN
(Preambule)

Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan perikeadilan. Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Atas berkat rakhmat Allah Yang Maha Kuasa dan de-ngan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya. Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidup-an bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadil-an sosial, maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia dan Ke-rakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

07 April 2009

Sejarah Sepak Bola

Dalam sebuah dokumen militer disebutkan Sepak bola pertama kali dimainkan di China dengan nama tsu chu pada tahun 5000 sebelum masehi tepatnya pada masa dinasti Tsin. Awalnya, pada waktu itu sepak bola awalnya dipakai untuk melatih fisik para prajurit kerajaan. Namun, karena dianggap mengasyikkan, maka tidak hanya anggota kerajaan saja yang memainkannya, tapi juga rakyat di seluruh Cina.

Sedangkan Menurut Bill Muray, pakar sejarah sepak bola, dalam bukunya The World Game: A History of Soccer, sepak bola sudah dimainkan sejak awal Masehi. Saat itu, orang-orang di era Mesir Kuno sudah mengenal permainan membawa dan menendang bola yang dibuat dari buntalan kain linen. Sejarah Yunani Purba juga mencatat ada sebuah permainan yang disebut episcuro, permainan menggunakan bola. Bukti itu tergambar pada relief-relief di dinding museum yang melukiskan anak muda memegang bola bulat dan memainkannya dengan paha.

Di Jepang dikenal pula permainan semacam "tsu-chu" sekitar 500 - 600 tahun kemudian, meskipun tidak kompetitif seperti di Cina. Di Yunani juga mengenal olahraga pra sepak bola yang bernama "episkyros", juga di Romawi orang mengenal permainan "harpastum" yaitu permainan dengan bola berukuran kecil.

Banyak teori tentang siapa yang mula-mula melaksanakan permainan sepak bola ini. Tetapi yang pasti, Inggrislah yang mulai menyempurnakan sehingga perkembangannya halus seperti sekarang ini. Prakarsanya di mulai pada tahun 1963, ketika sebelas perkumpulan di London mengadakan pertemuan untuk menjernikan kekacauan dengan membuat serangkaian peraturan fundamental untuk mengatur pertandingan-pertandingan selanjutnya.

Dan pada tanggal 26 Oktober lahirlah Football Association yang pertama. Buntut dari pertemuan itu adalah keluarnya kelompok Rugby dalam rapat karena menolak peraturan yang melarang penginjakan, penendangan tulang kering dan melarikan/membawa bola. Akhirnya pada tanggal 8 Desember 1863, Rugby resmi mengurdurkan diri dan keduanya berjalan sendiri-sendiri.

Monday, May 17, 2010

Kera-Kera Kreo


Apabila anda di Kota semarang, kurang lebih 45 menit dari kota arah selatan, ada satu obyek wisata yang sering di kunjungi warga semarang dan sekitarnya. Selain goa dan bentang alam, potensi wisata di tengah kota ini adalah keberadaan Monyet ekor panjang (orang lebih mengenal kera ekor panjang, padahal antar monyet dan kera adalah berbeda). Inilah jenis monyet yang menurut saya sangat cerdas, mampu cepat beradaptasi dalam kondisi apapun. Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), tersebar di seluruh Asia Tropis.

long Alas Daon, Sokokembang


BATS ARE EXTRAORDINARY CREATURES. THEY are exemplary mothers, and some also care for each other’s young; they can fly at speeds of up to 50km/h (30mph) through complete darkness, thanks to sophisticated orientation systems; and one of the few convincing examples of altruistic behavior in the animal kingdom is exhibited by bats. Bats can show specialized reproductive adaptations, including sperm storage, delayed fertilization, and delayed implantation. They are heterothermic; their body temperature may vary from up to 41°C (106°F) in flight to under 2°C (36°F) during hibernation. They can form aggregations of 20 million animals – the largest known in vertebrates. Their wonderful diversity and specializations have inspired important programs for their conservation worldwide. Saya mengambil kalimat dari ensklopedia bats untuk awal dari tulisan ini

…”Kalimat ini adalah untuk semua jenis kelelawar secara umum, dan saya lebih tertarik untuk jenis kelawar pemakan buah, yang mungkin belum menjadi prioritas konservasi di sekitar kita, ataupun belum menjadi 10 daftar satwaliar yang mempunyai peranan ekologis penting. Kalau anda berjalan menyusuri desa wisata durian Kabalong, Pekalongan, kearah kecamatan Lebakbarang, kurang lebih 1 km lepas dari desa Lolong, tengoklah ke kiri di seberang sungai , di atas bukit, akan terlihat koloni kelelawar buah yang jumlahnya mungkin mencapai ribuan. Sepintas seperti burung namun kalau di perhatikan akan terlihat bedanya antara bagaimana kelelawar terbang dan burung. Ya ini-lah roosting site /camp site dari kelelawar buah yang lebih dikenal dengan nama kalong, kelelawar buah dari ordo Chiropthera subordo megachiroptera dengan nama species Pteropus vampirus. Konon dengan berkoloni seperti ini memberi keuntungan perlindungan, interaksi sosial dan untuk merawat anak-anak kelelawar. Ribuan mungkin bahkan puluhan ribu kelelawar yang ada di hutan alas Daon, berada di tengah hutan yang mungkin beberapa km saja dari desa wisata durian Kabalong. Beberapa penelitian membuktikan bahwa kalong-kalong adalah pollinator (penyerbuk alami) dari pohon-pohon buah. Meskipun belum ada peneliitan yang membuktikan peranan kalong di sekitar desa wisata durian, namun saya berani berhipotesis bahwa kalong-kalong ini juga turut berkontribusi dalam produktifitas buah durian di wilayah ini, mengingat Doro, Karangnyar adalah kecamatan pengasil buah durian di pekalongan, dan sudah dipastikan kelelawar ini juga mampu terbang puluhan kilometer. Saya sempat menanyakan ke beberapa petani durian disekitar doro, katanya kalong-kalong besar itu berkunjung ke pohon durian ketika waktu pohon durian sedang berbunga.

Beberapa penelitian mengatakan bahwa roosting site seperti ini bisa musiman, ataubahkan permanen, artinya bisa berpindah-pindah ataupun menetap selama berpuluh tahun. Ancaman roosting site kalong di Alas Daon adalah perburuan, karena besar dan berkelompok dalam jumlah yang banyak, mudah sekali bagi para pemburu untuk menembak kalong yang sedang istirahat ini. Beberapa warga desa yang sempat saya temui mengatakan daging kalong juga enak dimakan, selain juga alasan untuk pengobatan. Keberadaan roosting site kalong di Alas Daon, memang masih di anggap biasa saja, penelitian, dan upaya pelestarian species ini sudah selayaknya menjadikan perhatian semua pihak. Kalong kalong ini menyediakan jasa ekologis yang sangat penting bagi kita, sebagai pollinator dan juga sebagai penyebar biji-biji pohon di hutan, fenomena seperti ini pun sebenarnya bisa menjadi pendukung industri ekowisata yang sedang tumbuh di wilayah ini.
Read more...

Saturday, January 02, 2010

Owajawa hutan sokokembang

Banyak orang telah berpikir bahwa hutan di jawa tengah telah habis, propinsi dengan populasi penduduk terpadat ini memang memiliki sejarah hutan yang terdegradasi dan terkonversi sejak dahulu kala.
Sejak jaman penjajahan belanda, banyak hutan alam di jawa telah di konversi menjadi hutan tanaman jati dan pinus, perkebunan teh dan karet.Penambahan jumlah penduduk, juga mengakibatkan konversi besar-besaran terhadap hutan alam untuk pemukiman, pertanian, dan perkebunan.Beberapa species endemik penghuni hutan-hutan alam yang ada di JawaTengah pun sepertinya tidak terdokumentasikan secara lengkap, kapan tercatat ada, dimana, dan berapa species itu?
Owajawa, adalah salah satu kera kecil yang kini tersisa di hutan-hutan alam di Jawa Tengah. Di Jawa tengah menurut catatan penelitian bisa di jumpai di Peg.Pembarisan, G.Slamet hingga ke paling timur di Pegunungan Dieng. Sebaran habitat kera kecil ini tidak ada yang terlindungi dalam suatu kawasan konservasi apapun, di Jawa Tengah. Habitat berhutan yang sudah terfragmentasi jadi rumah terakhir untuk jenis primata ini. Ancaman kerusakan habitat akibat illegal logging, perburuan , perambahan, perkebunan yang ekspansive perlahan-lahan semakin mengikis habitat yang tersisa di jawa tengah.
Hutan Sokokembang, adalah salah satu potongan hutan alam yang ada di Jawa Tengah, hutan ini masih rangkaian pegunungan Dieng bagian barat. Masuk wilayah Kabupaten Pekalongan, Kecamatan Petungkriono, Desa Kayupuring. Untuk mencapai kawasan hutan ini, dari kota pekalongan bisa lewat Kedung wuni atau Kajen, kemudian lewat Pasar Doro, kemudian naik kearah Kecamatan Petungkriono. Hutan sokokembang terletak di kanan-kiri sungai Wela, dan berbatasan dengan perkebunan teh Jolotigo.
Owajawa (Hylobates moloch) atau silvery javan gibbon , mempunyai suara yang khas pada pagi hari dan suara owa jantan dan owa betina juga berbeda, owa jantan biasanya juga bersuara ketika hari masih gelap dan owa betina baru kemudian bersuara ketika matahari sudah terbit. Owa biasanya memakan buah-buahan namun juga kadang memakan daun bunga, dan kulit kayu. Pergerakannya lebih banyak di atas pohon dengan berayun dari cabang pohon ke cabang pohon yang lain. Oleh karena itu keberadaan hutan yang bertajuk rapat adalah di perlukan untuk pergerakan kelompok owa. Beberapa catatan penelitian mengatakan bahwa jenis primata pemakan buah ini adalah salah satu agen penyebar biji-biji hutan, yang turut berperan dalam membantu regenerasi hutan secara alami.

Sejarah Dan Momentum Perang Salib

Posted: Juli 27, 2010 by tausiyah in Kajian
Tag:, ,
4 Votes
Quantcast

Beberapa peristiwa mempunyai pengaruh yang lebih menggetarkan dan tahan lama pada hubungan Muslim-Kristen daripada Perang Salib. Dua mitos meliputi persepsi Barat mengenai Perang Salib: pertama, kemenangan Kristen; kedua bahwa Perang Salib itu dilakukan hanya untuk pembebasan
Yerusalem. Bagi banyak orang Barat, fakta-fakta khusus yang menyangkut Perang Salib hanya diketahui secara samar-samar.[1]

Sebenarnya banyak orang tidak mengetahui siapa yang memulai peperangan itu, mengapa berperang, atau bagaimana peperangan itu dimenangkan. Bagi kaum Muslim, kenangan mengenai Perang Salib itu tetap hidup, yang merupakan contoh Kristen militan paling jelas, pertanda awal agresi dan imperialisme Barat Kristen, kenangan yang hidup akan permusuhan awal Kristen terhadap Islam.

Jika banyak orang menganggap Islam sebagai agama pedang, maka kaum Muslim selama berabad-abad telah membicarakan ambisi dan mentalitas Tentara Salib Barat. Karena itu, untuk hubungan Muslim-Kristen, hal itu bukan merupakan masalah mengenai apa yang sebenarnya terjadi dalam
Perang Salib melainkan bagaimana hal-hal tersebut diingat.

Perang Salib (Crusades), yang namanya diambil dari “Cross” (Crux dalam bahasa latin), merupakan delapan ekspedisi militer yang terjadi sejak abad ke-11 hingga 13 yang membuat orang-orang Kristen (tentara Kristen Franks) melawan Islam (tentara Muslim Saracens). Abad ke-11 ditandai sebagai saat yang menentukan dalam hubungan Barat dengan dunia Islam.

Hingga tahun 1000, Barat merupakan daerah miskin, terbelakang, dan buta huruf. Mereka mempertahankan diri dari serangan bangsa barbar yang terjadi di darat dan di laut… Selama empat abad, Islam mengalami kedamaian dan keamanan intern, sehingga mampu membangun kebudayaan urban yang, cemerlang dan mengesankan. Kini situasinya benar-benar berubah… Perdagangan hidup kembali (di Barat), kota dan pasar bermunculan; penduduk bertambah… seni serta ilmu pengetahuan mengalami kemajuan sedemikian rupa sejak masa Kerajaan Roma.[2]

Bangsa Barat yang bangkit dari zaman kegelapan, mengadakan penyerangan untuk mengusir kaum Muslim dan Spanyol, Italia, Sisilia, dan Mediterrania pada saat dunia Islam telah mengalami kemajuan dalam perjuangan politik dan agama.

Ketika kekuatannya dikalahkan oleh tentara Abbasiyah di akhir abad ke-15, Raja Byzantium, Alexius I, yang merasa khawatir bahwa tentara Muslim akan memenangkan seluruh Asia dan menduduki ibukota kerajaan, Konstantinopel, memohon bantuan Barat. Ia mengimbau kepada sesama penguasa Kristen dan Paus untuk mengusir kaum Muslim dengan “berziarah” untuk membebaskan Yerusalem dan sekitarnya dari tangan pemerintah Muslim.

Yerusalem adalah kota suci bagi ketiga agama berdasarkan ajaran Nabi Ibrahim. Kota tersebut telah direbut oleh tentara Islam tahun 638 pada masa bangsa Arab melakukan ekspansi dan penaklukan. Di bawah pemerintahan orang-orang Muslim, gereja dan penduduk yang beragama Kristen tidak
pernah diganggu. Tempat-tempat suci dan peninggalan-peninggalan Kristen menjadi tempat yang selalu dikunjungi oleh orang-orang Kristen. Orang-orang Yahudi yang sejak lama dilarang tinggal di tempat itu oleh pemerintah Kristen, kini diperbolehkan kembali tinggal dan beribadah di
kota Nabi Sulaiman dan Nabi Daud. Orang-orang Muslim membangun sebuah tempat ibadah, Dome of the Rock (Kubah Batu) dan Al-Aqsha di dekat The Wailing Wall (Tembok Ratapan), sisa-sisa terakhir Istana Sulaiman, dan menjadi tempat yang sangat khusus bagi Yudaisme. Lima abad hidup berdampingan dengan damai kini porak-poranda karena perang-perang suci yang membuat Kristen berperang melawan Islam dan berakibat terciptanya perasaan tidak percaya serta salah paham yang tak berkesudahan.

Peperangan Salib itu dimulai dengan tanggapan Paus Urban II terhadap permohonan Raja Alexius. Pada tahun 1095, Urban menyerukan pembebasan Tanah Suci dari tangan orang-orang kafir, dan mengadakan perang suci yang sudah menjadi tradisi. Bagi Paus, panggilan untuk membela agama dan Yerusalem memberikan suatu kesempatan untuk memperoleh
pengakuan atas otoritas kepausannya dan peranannya untuk mengabsahkan pemerintah sementara, dan untuk mempersatukan kembali gereja-gereja Timur (Yunani) dan Barat (Latin).

Seruan peperangan Paus -”Itulah kehendak Tuhan!”- terbukti berhasil. Pendekatan agama berhasil memikat pikiran orang dan memanfaatkan kepentingan diri banyak orang, yang menghasilkan persatuan dan kembalinya kekuatan Kristen. Para pemerintah, pedagang, dan ksatria Kristen terdorong oleh keuntungan-keuntungan ekonomi dan politik yang akan dipetik dengan tegaknya kerajaan Latin di Timur Tengah.

Para ksatria dari Perancis dan bagian-bagian lain Eropa Barat, yang terdorong oleh fanatisme agama dan harapan akan pampasan perang, bersatu melawan orang orang “kafir” dalam suatu peperangan yang tujuannya adalah membebaskan kota suci: “Mungkin Tuhan memang menghendakinya, tetapi yang pasti tidak ada bukti bahwa orang-orang Kristen Yerusalem mempunyai harapan itu, atau ada sesuatu yang luar biasa dalam sejarah yang tertadi pada jamaat di sana sehingga pada saat itu mereka memberikan tanggapan yang demikian.[3] Perang Salib diilhami oleh dua institusi Kristen, yaitu ziarah ke
tempat suci dan perang suci: pembebasan tempat-tempat suci dari tangan kaum Muslim berkarakterkan keduanya.

Ziarah memainkan peran penting bagi kesalehan Kristen. Mendatangi tempat-tempat suci, menghormati peninggalan keramat dan melakukan penebusan dosa memberikan (orang-orang yang mengecam akan mengatakan “membeli”) janji pengampunan dosa. Yerusalem, pusat lahirnya Kristen, merupakan lambang kota Tuhan, yang karenanya merupakan tempat suci. Pada waktu yang sama, gagasan perang suci mengubah dan menyucikan peperangan di abad-abad pertengahan beserta gagasan kehormatan dan
keksatriaannya.

Para pejuang itu menang, baik mereka memenangkan peperangan di dunia maupun tidak. Memerangi musuh artinya terhormat dan mulia, ganjaran yang diterima oleh semua yang berperan dalam Perang Salib berupa jaminan diampuni dosanya dan masuk surga. Mati dalam peperangan adalah meninggal sebagai pahlawan agama dan langsung masuk surga walaupun mempunyai dosa-dosa di masa yang lalu.

Dalam keadaan terpecah-pecah, reaksi kaum Muslim yang pertama tidak efektif; tentara Salib yang pertama mencapai Yerusalem dan merebutnya pada tahun 1099. Namun keberhasilan kaum Kristen tidak berlangsung lama: “Para pejuang Salib… lebih merupakan gangguan daripada ancaman serius bagi dunia Islam.”[4] Pada pertengahan abad ke-12, pasukan Islam
menanggapi secara efektif.

Di bawah kepemimpinan Saladin yang mumpuni (Shalah Al-Din, wafat 1193), salah seorang jenderal dan pemerintah Muslim paling terkenal, Yerusalem direbut kembali pada tahun 1187. Keadaan berubah dan momentumnya tetap berada di tangan pasukan kaum Muslim. Pada abad ke-13, Perang Salib telah berubah menjadi perang saudara Kristen, perang melawan musuh-musuh yang oleh Paus dikatakan sebagai sesat. Akhirnya, sesuatu yang ditakutkan yang telah menimbulkan perang suci Kristen itu, dengan seruannya agar kaum Kristen bersatu untuk merebut kekuasaan kaum Muslim, terjadi pada tahun 1453 ketika ibukota Byzantium, Konstantinopel, jatuh dan diberi nama baru, Istanbul, yang kemudian menjadi kedudukan Kerajaan Utsmaniyah. Impian penguasa dan tentara Muslim yang muncul
sejak abad ketujuh menjadi kenyataan. Sebaliknya, ketakutan kaum Kristen dan ancaman Islam yang kuat, ekspansif dan terus-menerus makin meluas sampai ke Eropa Timur, yang sebagian besarnya dikuasai Kerajaan Utsmaniyah.

Warisan Perang Salib ini tergantung pada tempat seseorang berpijak dalam sejarah. Kaum Kristen dan Muslim bersaing dalam visi dan kepentingan serta masing-masing senantiasa ingat pada komitmennya terhadap agama, dan kisah-kisah kepahlawanan melawan kaum “kafir.” Bagi banyak orang di Barat, dugaan mengenai kemenangan Kristen didasarkan pada sejarah yang diromantiskan untuk merayakan kepahlawanan pejuang Salib dan juga kecenderungan untuk menginterpretasikan sejarah melalui pengalaman kolonialisme Eropa dari kekuasaan Amerika selama dua abad yang baru lalu ini. Masing-masing agama melihat satu sama lain sebagai militan, agak barbaris dan fanatik, cenderung menjajah, mengubah atau memusnahkan yang lainnya, dan itulah suatu halangan dan ancaman bagi terealisasikannya kehendak Allah. Pertentangan mereka berlanjut terus selama masa Utsmaniyah, melalui arus kolonialisme Eropa, dan akhirnya ke dalam
persaingan negara-negara adidaya pada abad ke-20.

Dr. Soetomo adalah tokoh pendiri Budi Utomo bersama EFE Douwes Dekker dan Dr. Tjipto Mangunkusumo, yg kemudian dikenal sebagai “Tiga Serangkai”. Tanggal pendirian Budi Utomo 20 Mei 1908 pun ditetapkan sebagai cikal bakal Kebangkitan Nasionalisme Indonesia yg dirayakan ke-100 tahun ini. Nama dr. Soetomo demikian harum, namun tak banyak yang tahu kisah cintanya dengan perawat Belanda bernama Everdina Broering.

Dr. Soetomo, pemuda pribumi sederhana yg dilahirkan di Desa Ngepeh, Nganjuk pada 30 Juli 1988. Tetapi pemikirannya begitu luar biasa untuk kemajuan, kehormatan dan harga diri bangsanya. Bekal ilmu kedokteran yg dimilikinya sejak lulus 1911 dr. Soetomo memulai pengabdiannya kepada masyarakat di Semarang, Tuban hingga Lubuk Pakam, Sumatera Timur. Jiwa nasionalismenya pun makin subur, tanpa lelah ia melayani masyarakat di dalam dan luar Jawa, sambil menyebarkan paham kebangsaan Budi Utomo.

Tahun 1917 ia kembali ke Tanah Jawa untuk diperbantukan di sebuah rumah sakit di Blora. Inilah momen penting dalam kehidupan pribadinya, yaitu bertemu sang belahan jiwa, Everdina Broering, perawat Belanda yg mengisi kekosongan tenaga perawat disana. Everdina Broering, wanita bertubuh kurus itu wajahnya pucat, namun garis kecantikannya tegas. Ketika bertegur sapa, tutur katanya sungguh lembut, pertemuan pertama itu meninggalkan kesan mendalam di batin dokter muda Soetomo.

Baru kemudian Soetomo tahu kalau Everdina baru berkabung ditinggal mati suaminya. Untuk melupakan kesedihannya, ia memenuhi undangan kakak perempuannya, dan diperbantukan sebagai perawat di Rumah Sakit Blora. Everdina terlihat murung dan termenung, semakin sedih wajah Everdina terbayang, semakin besar keinginan dr. Soetomo menghapus bayang² kepedihan itu. Mereka pun berteman, lalu berubah ke jalinan hubungan yg lebih mendalam. Kesendirian mereka masing²telah melahirkan benih² asmara yg kemudian tumbuh subur.Dr. Soetomo & Everdina pun sepakat menikah, tetapi keputusan ini mengundang gelombang pertentangan dari teman sepergerakan Soetomo maupun keluarga Everdina. Terdengar komentar miring, misalnya Sebagai pemimpin Indonesia, dr. Soetomo tak sepatutnya beristrikan wanita Belanda, atau anggapan Soetomo bisa mengingkari cita²nya untuk memerdekakan Indonesia dari Belanda.Namun demikian semakin banyak penentangan, cinta mereka makin kuat dan tetap menikah.

Tahun 1918 dr. Soetomo tetap melanjutkan perjuangan pergerakan kemerdekaan dan pengabdian kemanusiaan, ditemani istri tercinta. Everdina begitu setia, sederhana dan penuh tanggung jawab. Soetomo pun makin kagum pada istrinya yang santun dan patuh kepada suami seperti perilaku perempuan Jawa. Lebih dari itu Everdina juga rela memberikan ‘kemerdekaan’ kepada suaminya untuk mewujudkan cita-citanya memerdekakan nusa dan bangsa Indonesia.Prestasi dr. Seotomo selama mengabdi sebagai dokter mendorong pemerintah Hindia Belanda memberinya beasiswa mendalami Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin di Belanda pada tahun 1919. Kesempatan baik ini digunakannya untuk menjalin hubungan baik dengan keluarga istrinya.

Mereka tinggal di Amsterdam 4 tahun dengan segala suka dan duka. Meski dengan uang pas – pasan sebagai pelajar asing, Everdina kembali menunjukkan kualitasnya sebagai istri. Ia tidak pernah mengeluh meski setiap akhir minggu menjamu makan banyak pemuda dan mahasiswa Indonesia di rumah mereka yang kecil. Dr. Soetomo memberi wejangan dan diskusi tentang nasionalisme Indonesia. Everdina memasak nasi goreng yang sangat disukai mahasiswa sebagai obat kangen akan Indonesia. Di Amsterdam kehidupan perkawinan mereka dipenuhi rasa saling menghargai satu sama lain.

Empat tahun dr. Soetomo merampungkan pendidikannya dan kembali ke tanah air. ”Rakyat Indonesia membutuhkan pemimpin sebanyak²nya yang akan membimbing mereka mencapai cita² perjuangan,” katanya. Keduanya tetap bahagia meski belum dikaruniai anak.Sampai di tanah air, dr. Soetomo diangkat menjadi dosen Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin di NIAS (Nederlandsc Indische Artsen School) Surabaya, lalu memimpin berbagai perkumpulan di masyaakat hingga akhirnya membentuk PARINDRA (Partai Indonesia Raya). Dengan segudang kegiatan, tanggung jawab istrinya juga semakin bertambah banyak dan berat. Namun Everdina menjalaninya tanpa keluhan, dr. Soetomo sering terharu melihat pengorbanan sang istri.

Cuaca Surabaya yang panas dan lembab ternyata mempengaruhi kondisi Everdina yang kelewat keras bekerja di garis belakang. Dibalik ketegarannya dan semangat yang luar biasa, tubuhnya makin rapuh. Atas anjuran sejawat dokter, dr. Soetomo mengajak istrinya tinggal di daerah berhawa sejuk Celaket Malang, di lereng Gunung Penanggungan. Sebuah keputusan yang sulit, karena mereka terpaksa harus berpisah sementar waktu, dua minggu sekali Soetomo baru mengunjungi sang istri.

Di tengah perjuangannya melawan penyakit yang mendera tubuhnya, Everdina tetap berhati mulia. Ia terus membantu penduduk dengan memberi obat-obatan, merawat luka dan memberi bantuan uang. Hingga takdir berkata lain, kondisi Everdina semakin lemah, hingga akhirnya menyerah, sang istri meninggal dengan tenang dipangkuan dr. Soetomo pada 17 Pebruari 1934.Prosesi pemakaman istri dr. Soetomo mendapat perhatian besar dari masyarakat Indonesia dan Belanda. Dr. Soetomo menulis pidato yang dibacanya saat prosesi pemakaman dengan hati hancur. Naskah pidatonya sedemikian indah yang membuktikan cintanya yang teramat dalam kepada mendiang istri tercinta.Sepeninggal sang istri, dr. Soetomo tidak menikah lagi hingga ajal menjemputnya pada 29 Mei 1938 di usia 50 tahun. Hidupnya diabadikan untuk kesetiaan terhadap cinta kepada istri maupun nusa dan bangsa Indonesia.