Sabtu, 31 Juli 2010

Monday, May 17, 2010

Kera-Kera Kreo


Apabila anda di Kota semarang, kurang lebih 45 menit dari kota arah selatan, ada satu obyek wisata yang sering di kunjungi warga semarang dan sekitarnya. Selain goa dan bentang alam, potensi wisata di tengah kota ini adalah keberadaan Monyet ekor panjang (orang lebih mengenal kera ekor panjang, padahal antar monyet dan kera adalah berbeda). Inilah jenis monyet yang menurut saya sangat cerdas, mampu cepat beradaptasi dalam kondisi apapun. Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), tersebar di seluruh Asia Tropis.

long Alas Daon, Sokokembang


BATS ARE EXTRAORDINARY CREATURES. THEY are exemplary mothers, and some also care for each other’s young; they can fly at speeds of up to 50km/h (30mph) through complete darkness, thanks to sophisticated orientation systems; and one of the few convincing examples of altruistic behavior in the animal kingdom is exhibited by bats. Bats can show specialized reproductive adaptations, including sperm storage, delayed fertilization, and delayed implantation. They are heterothermic; their body temperature may vary from up to 41°C (106°F) in flight to under 2°C (36°F) during hibernation. They can form aggregations of 20 million animals – the largest known in vertebrates. Their wonderful diversity and specializations have inspired important programs for their conservation worldwide. Saya mengambil kalimat dari ensklopedia bats untuk awal dari tulisan ini

…”Kalimat ini adalah untuk semua jenis kelelawar secara umum, dan saya lebih tertarik untuk jenis kelawar pemakan buah, yang mungkin belum menjadi prioritas konservasi di sekitar kita, ataupun belum menjadi 10 daftar satwaliar yang mempunyai peranan ekologis penting. Kalau anda berjalan menyusuri desa wisata durian Kabalong, Pekalongan, kearah kecamatan Lebakbarang, kurang lebih 1 km lepas dari desa Lolong, tengoklah ke kiri di seberang sungai , di atas bukit, akan terlihat koloni kelelawar buah yang jumlahnya mungkin mencapai ribuan. Sepintas seperti burung namun kalau di perhatikan akan terlihat bedanya antara bagaimana kelelawar terbang dan burung. Ya ini-lah roosting site /camp site dari kelelawar buah yang lebih dikenal dengan nama kalong, kelelawar buah dari ordo Chiropthera subordo megachiroptera dengan nama species Pteropus vampirus. Konon dengan berkoloni seperti ini memberi keuntungan perlindungan, interaksi sosial dan untuk merawat anak-anak kelelawar. Ribuan mungkin bahkan puluhan ribu kelelawar yang ada di hutan alas Daon, berada di tengah hutan yang mungkin beberapa km saja dari desa wisata durian Kabalong. Beberapa penelitian membuktikan bahwa kalong-kalong adalah pollinator (penyerbuk alami) dari pohon-pohon buah. Meskipun belum ada peneliitan yang membuktikan peranan kalong di sekitar desa wisata durian, namun saya berani berhipotesis bahwa kalong-kalong ini juga turut berkontribusi dalam produktifitas buah durian di wilayah ini, mengingat Doro, Karangnyar adalah kecamatan pengasil buah durian di pekalongan, dan sudah dipastikan kelelawar ini juga mampu terbang puluhan kilometer. Saya sempat menanyakan ke beberapa petani durian disekitar doro, katanya kalong-kalong besar itu berkunjung ke pohon durian ketika waktu pohon durian sedang berbunga.

Beberapa penelitian mengatakan bahwa roosting site seperti ini bisa musiman, ataubahkan permanen, artinya bisa berpindah-pindah ataupun menetap selama berpuluh tahun. Ancaman roosting site kalong di Alas Daon adalah perburuan, karena besar dan berkelompok dalam jumlah yang banyak, mudah sekali bagi para pemburu untuk menembak kalong yang sedang istirahat ini. Beberapa warga desa yang sempat saya temui mengatakan daging kalong juga enak dimakan, selain juga alasan untuk pengobatan. Keberadaan roosting site kalong di Alas Daon, memang masih di anggap biasa saja, penelitian, dan upaya pelestarian species ini sudah selayaknya menjadikan perhatian semua pihak. Kalong kalong ini menyediakan jasa ekologis yang sangat penting bagi kita, sebagai pollinator dan juga sebagai penyebar biji-biji pohon di hutan, fenomena seperti ini pun sebenarnya bisa menjadi pendukung industri ekowisata yang sedang tumbuh di wilayah ini.
Read more...

Saturday, January 02, 2010

Owajawa hutan sokokembang

Banyak orang telah berpikir bahwa hutan di jawa tengah telah habis, propinsi dengan populasi penduduk terpadat ini memang memiliki sejarah hutan yang terdegradasi dan terkonversi sejak dahulu kala.
Sejak jaman penjajahan belanda, banyak hutan alam di jawa telah di konversi menjadi hutan tanaman jati dan pinus, perkebunan teh dan karet.Penambahan jumlah penduduk, juga mengakibatkan konversi besar-besaran terhadap hutan alam untuk pemukiman, pertanian, dan perkebunan.Beberapa species endemik penghuni hutan-hutan alam yang ada di JawaTengah pun sepertinya tidak terdokumentasikan secara lengkap, kapan tercatat ada, dimana, dan berapa species itu?
Owajawa, adalah salah satu kera kecil yang kini tersisa di hutan-hutan alam di Jawa Tengah. Di Jawa tengah menurut catatan penelitian bisa di jumpai di Peg.Pembarisan, G.Slamet hingga ke paling timur di Pegunungan Dieng. Sebaran habitat kera kecil ini tidak ada yang terlindungi dalam suatu kawasan konservasi apapun, di Jawa Tengah. Habitat berhutan yang sudah terfragmentasi jadi rumah terakhir untuk jenis primata ini. Ancaman kerusakan habitat akibat illegal logging, perburuan , perambahan, perkebunan yang ekspansive perlahan-lahan semakin mengikis habitat yang tersisa di jawa tengah.
Hutan Sokokembang, adalah salah satu potongan hutan alam yang ada di Jawa Tengah, hutan ini masih rangkaian pegunungan Dieng bagian barat. Masuk wilayah Kabupaten Pekalongan, Kecamatan Petungkriono, Desa Kayupuring. Untuk mencapai kawasan hutan ini, dari kota pekalongan bisa lewat Kedung wuni atau Kajen, kemudian lewat Pasar Doro, kemudian naik kearah Kecamatan Petungkriono. Hutan sokokembang terletak di kanan-kiri sungai Wela, dan berbatasan dengan perkebunan teh Jolotigo.
Owajawa (Hylobates moloch) atau silvery javan gibbon , mempunyai suara yang khas pada pagi hari dan suara owa jantan dan owa betina juga berbeda, owa jantan biasanya juga bersuara ketika hari masih gelap dan owa betina baru kemudian bersuara ketika matahari sudah terbit. Owa biasanya memakan buah-buahan namun juga kadang memakan daun bunga, dan kulit kayu. Pergerakannya lebih banyak di atas pohon dengan berayun dari cabang pohon ke cabang pohon yang lain. Oleh karena itu keberadaan hutan yang bertajuk rapat adalah di perlukan untuk pergerakan kelompok owa. Beberapa catatan penelitian mengatakan bahwa jenis primata pemakan buah ini adalah salah satu agen penyebar biji-biji hutan, yang turut berperan dalam membantu regenerasi hutan secara alami.

Sejarah Dan Momentum Perang Salib

Posted: Juli 27, 2010 by tausiyah in Kajian
Tag:, ,
4 Votes
Quantcast

Beberapa peristiwa mempunyai pengaruh yang lebih menggetarkan dan tahan lama pada hubungan Muslim-Kristen daripada Perang Salib. Dua mitos meliputi persepsi Barat mengenai Perang Salib: pertama, kemenangan Kristen; kedua bahwa Perang Salib itu dilakukan hanya untuk pembebasan
Yerusalem. Bagi banyak orang Barat, fakta-fakta khusus yang menyangkut Perang Salib hanya diketahui secara samar-samar.[1]

Sebenarnya banyak orang tidak mengetahui siapa yang memulai peperangan itu, mengapa berperang, atau bagaimana peperangan itu dimenangkan. Bagi kaum Muslim, kenangan mengenai Perang Salib itu tetap hidup, yang merupakan contoh Kristen militan paling jelas, pertanda awal agresi dan imperialisme Barat Kristen, kenangan yang hidup akan permusuhan awal Kristen terhadap Islam.

Jika banyak orang menganggap Islam sebagai agama pedang, maka kaum Muslim selama berabad-abad telah membicarakan ambisi dan mentalitas Tentara Salib Barat. Karena itu, untuk hubungan Muslim-Kristen, hal itu bukan merupakan masalah mengenai apa yang sebenarnya terjadi dalam
Perang Salib melainkan bagaimana hal-hal tersebut diingat.

Perang Salib (Crusades), yang namanya diambil dari “Cross” (Crux dalam bahasa latin), merupakan delapan ekspedisi militer yang terjadi sejak abad ke-11 hingga 13 yang membuat orang-orang Kristen (tentara Kristen Franks) melawan Islam (tentara Muslim Saracens). Abad ke-11 ditandai sebagai saat yang menentukan dalam hubungan Barat dengan dunia Islam.

Hingga tahun 1000, Barat merupakan daerah miskin, terbelakang, dan buta huruf. Mereka mempertahankan diri dari serangan bangsa barbar yang terjadi di darat dan di laut… Selama empat abad, Islam mengalami kedamaian dan keamanan intern, sehingga mampu membangun kebudayaan urban yang, cemerlang dan mengesankan. Kini situasinya benar-benar berubah… Perdagangan hidup kembali (di Barat), kota dan pasar bermunculan; penduduk bertambah… seni serta ilmu pengetahuan mengalami kemajuan sedemikian rupa sejak masa Kerajaan Roma.[2]

Bangsa Barat yang bangkit dari zaman kegelapan, mengadakan penyerangan untuk mengusir kaum Muslim dan Spanyol, Italia, Sisilia, dan Mediterrania pada saat dunia Islam telah mengalami kemajuan dalam perjuangan politik dan agama.

Ketika kekuatannya dikalahkan oleh tentara Abbasiyah di akhir abad ke-15, Raja Byzantium, Alexius I, yang merasa khawatir bahwa tentara Muslim akan memenangkan seluruh Asia dan menduduki ibukota kerajaan, Konstantinopel, memohon bantuan Barat. Ia mengimbau kepada sesama penguasa Kristen dan Paus untuk mengusir kaum Muslim dengan “berziarah” untuk membebaskan Yerusalem dan sekitarnya dari tangan pemerintah Muslim.

Yerusalem adalah kota suci bagi ketiga agama berdasarkan ajaran Nabi Ibrahim. Kota tersebut telah direbut oleh tentara Islam tahun 638 pada masa bangsa Arab melakukan ekspansi dan penaklukan. Di bawah pemerintahan orang-orang Muslim, gereja dan penduduk yang beragama Kristen tidak
pernah diganggu. Tempat-tempat suci dan peninggalan-peninggalan Kristen menjadi tempat yang selalu dikunjungi oleh orang-orang Kristen. Orang-orang Yahudi yang sejak lama dilarang tinggal di tempat itu oleh pemerintah Kristen, kini diperbolehkan kembali tinggal dan beribadah di
kota Nabi Sulaiman dan Nabi Daud. Orang-orang Muslim membangun sebuah tempat ibadah, Dome of the Rock (Kubah Batu) dan Al-Aqsha di dekat The Wailing Wall (Tembok Ratapan), sisa-sisa terakhir Istana Sulaiman, dan menjadi tempat yang sangat khusus bagi Yudaisme. Lima abad hidup berdampingan dengan damai kini porak-poranda karena perang-perang suci yang membuat Kristen berperang melawan Islam dan berakibat terciptanya perasaan tidak percaya serta salah paham yang tak berkesudahan.

Peperangan Salib itu dimulai dengan tanggapan Paus Urban II terhadap permohonan Raja Alexius. Pada tahun 1095, Urban menyerukan pembebasan Tanah Suci dari tangan orang-orang kafir, dan mengadakan perang suci yang sudah menjadi tradisi. Bagi Paus, panggilan untuk membela agama dan Yerusalem memberikan suatu kesempatan untuk memperoleh
pengakuan atas otoritas kepausannya dan peranannya untuk mengabsahkan pemerintah sementara, dan untuk mempersatukan kembali gereja-gereja Timur (Yunani) dan Barat (Latin).

Seruan peperangan Paus -”Itulah kehendak Tuhan!”- terbukti berhasil. Pendekatan agama berhasil memikat pikiran orang dan memanfaatkan kepentingan diri banyak orang, yang menghasilkan persatuan dan kembalinya kekuatan Kristen. Para pemerintah, pedagang, dan ksatria Kristen terdorong oleh keuntungan-keuntungan ekonomi dan politik yang akan dipetik dengan tegaknya kerajaan Latin di Timur Tengah.

Para ksatria dari Perancis dan bagian-bagian lain Eropa Barat, yang terdorong oleh fanatisme agama dan harapan akan pampasan perang, bersatu melawan orang orang “kafir” dalam suatu peperangan yang tujuannya adalah membebaskan kota suci: “Mungkin Tuhan memang menghendakinya, tetapi yang pasti tidak ada bukti bahwa orang-orang Kristen Yerusalem mempunyai harapan itu, atau ada sesuatu yang luar biasa dalam sejarah yang tertadi pada jamaat di sana sehingga pada saat itu mereka memberikan tanggapan yang demikian.[3] Perang Salib diilhami oleh dua institusi Kristen, yaitu ziarah ke
tempat suci dan perang suci: pembebasan tempat-tempat suci dari tangan kaum Muslim berkarakterkan keduanya.

Ziarah memainkan peran penting bagi kesalehan Kristen. Mendatangi tempat-tempat suci, menghormati peninggalan keramat dan melakukan penebusan dosa memberikan (orang-orang yang mengecam akan mengatakan “membeli”) janji pengampunan dosa. Yerusalem, pusat lahirnya Kristen, merupakan lambang kota Tuhan, yang karenanya merupakan tempat suci. Pada waktu yang sama, gagasan perang suci mengubah dan menyucikan peperangan di abad-abad pertengahan beserta gagasan kehormatan dan
keksatriaannya.

Para pejuang itu menang, baik mereka memenangkan peperangan di dunia maupun tidak. Memerangi musuh artinya terhormat dan mulia, ganjaran yang diterima oleh semua yang berperan dalam Perang Salib berupa jaminan diampuni dosanya dan masuk surga. Mati dalam peperangan adalah meninggal sebagai pahlawan agama dan langsung masuk surga walaupun mempunyai dosa-dosa di masa yang lalu.

Dalam keadaan terpecah-pecah, reaksi kaum Muslim yang pertama tidak efektif; tentara Salib yang pertama mencapai Yerusalem dan merebutnya pada tahun 1099. Namun keberhasilan kaum Kristen tidak berlangsung lama: “Para pejuang Salib… lebih merupakan gangguan daripada ancaman serius bagi dunia Islam.”[4] Pada pertengahan abad ke-12, pasukan Islam
menanggapi secara efektif.

Di bawah kepemimpinan Saladin yang mumpuni (Shalah Al-Din, wafat 1193), salah seorang jenderal dan pemerintah Muslim paling terkenal, Yerusalem direbut kembali pada tahun 1187. Keadaan berubah dan momentumnya tetap berada di tangan pasukan kaum Muslim. Pada abad ke-13, Perang Salib telah berubah menjadi perang saudara Kristen, perang melawan musuh-musuh yang oleh Paus dikatakan sebagai sesat. Akhirnya, sesuatu yang ditakutkan yang telah menimbulkan perang suci Kristen itu, dengan seruannya agar kaum Kristen bersatu untuk merebut kekuasaan kaum Muslim, terjadi pada tahun 1453 ketika ibukota Byzantium, Konstantinopel, jatuh dan diberi nama baru, Istanbul, yang kemudian menjadi kedudukan Kerajaan Utsmaniyah. Impian penguasa dan tentara Muslim yang muncul
sejak abad ketujuh menjadi kenyataan. Sebaliknya, ketakutan kaum Kristen dan ancaman Islam yang kuat, ekspansif dan terus-menerus makin meluas sampai ke Eropa Timur, yang sebagian besarnya dikuasai Kerajaan Utsmaniyah.

Warisan Perang Salib ini tergantung pada tempat seseorang berpijak dalam sejarah. Kaum Kristen dan Muslim bersaing dalam visi dan kepentingan serta masing-masing senantiasa ingat pada komitmennya terhadap agama, dan kisah-kisah kepahlawanan melawan kaum “kafir.” Bagi banyak orang di Barat, dugaan mengenai kemenangan Kristen didasarkan pada sejarah yang diromantiskan untuk merayakan kepahlawanan pejuang Salib dan juga kecenderungan untuk menginterpretasikan sejarah melalui pengalaman kolonialisme Eropa dari kekuasaan Amerika selama dua abad yang baru lalu ini. Masing-masing agama melihat satu sama lain sebagai militan, agak barbaris dan fanatik, cenderung menjajah, mengubah atau memusnahkan yang lainnya, dan itulah suatu halangan dan ancaman bagi terealisasikannya kehendak Allah. Pertentangan mereka berlanjut terus selama masa Utsmaniyah, melalui arus kolonialisme Eropa, dan akhirnya ke dalam
persaingan negara-negara adidaya pada abad ke-20.

Dr. Soetomo adalah tokoh pendiri Budi Utomo bersama EFE Douwes Dekker dan Dr. Tjipto Mangunkusumo, yg kemudian dikenal sebagai “Tiga Serangkai”. Tanggal pendirian Budi Utomo 20 Mei 1908 pun ditetapkan sebagai cikal bakal Kebangkitan Nasionalisme Indonesia yg dirayakan ke-100 tahun ini. Nama dr. Soetomo demikian harum, namun tak banyak yang tahu kisah cintanya dengan perawat Belanda bernama Everdina Broering.

Dr. Soetomo, pemuda pribumi sederhana yg dilahirkan di Desa Ngepeh, Nganjuk pada 30 Juli 1988. Tetapi pemikirannya begitu luar biasa untuk kemajuan, kehormatan dan harga diri bangsanya. Bekal ilmu kedokteran yg dimilikinya sejak lulus 1911 dr. Soetomo memulai pengabdiannya kepada masyarakat di Semarang, Tuban hingga Lubuk Pakam, Sumatera Timur. Jiwa nasionalismenya pun makin subur, tanpa lelah ia melayani masyarakat di dalam dan luar Jawa, sambil menyebarkan paham kebangsaan Budi Utomo.

Tahun 1917 ia kembali ke Tanah Jawa untuk diperbantukan di sebuah rumah sakit di Blora. Inilah momen penting dalam kehidupan pribadinya, yaitu bertemu sang belahan jiwa, Everdina Broering, perawat Belanda yg mengisi kekosongan tenaga perawat disana. Everdina Broering, wanita bertubuh kurus itu wajahnya pucat, namun garis kecantikannya tegas. Ketika bertegur sapa, tutur katanya sungguh lembut, pertemuan pertama itu meninggalkan kesan mendalam di batin dokter muda Soetomo.

Baru kemudian Soetomo tahu kalau Everdina baru berkabung ditinggal mati suaminya. Untuk melupakan kesedihannya, ia memenuhi undangan kakak perempuannya, dan diperbantukan sebagai perawat di Rumah Sakit Blora. Everdina terlihat murung dan termenung, semakin sedih wajah Everdina terbayang, semakin besar keinginan dr. Soetomo menghapus bayang² kepedihan itu. Mereka pun berteman, lalu berubah ke jalinan hubungan yg lebih mendalam. Kesendirian mereka masing²telah melahirkan benih² asmara yg kemudian tumbuh subur.Dr. Soetomo & Everdina pun sepakat menikah, tetapi keputusan ini mengundang gelombang pertentangan dari teman sepergerakan Soetomo maupun keluarga Everdina. Terdengar komentar miring, misalnya Sebagai pemimpin Indonesia, dr. Soetomo tak sepatutnya beristrikan wanita Belanda, atau anggapan Soetomo bisa mengingkari cita²nya untuk memerdekakan Indonesia dari Belanda.Namun demikian semakin banyak penentangan, cinta mereka makin kuat dan tetap menikah.

Tahun 1918 dr. Soetomo tetap melanjutkan perjuangan pergerakan kemerdekaan dan pengabdian kemanusiaan, ditemani istri tercinta. Everdina begitu setia, sederhana dan penuh tanggung jawab. Soetomo pun makin kagum pada istrinya yang santun dan patuh kepada suami seperti perilaku perempuan Jawa. Lebih dari itu Everdina juga rela memberikan ‘kemerdekaan’ kepada suaminya untuk mewujudkan cita-citanya memerdekakan nusa dan bangsa Indonesia.Prestasi dr. Seotomo selama mengabdi sebagai dokter mendorong pemerintah Hindia Belanda memberinya beasiswa mendalami Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin di Belanda pada tahun 1919. Kesempatan baik ini digunakannya untuk menjalin hubungan baik dengan keluarga istrinya.

Mereka tinggal di Amsterdam 4 tahun dengan segala suka dan duka. Meski dengan uang pas – pasan sebagai pelajar asing, Everdina kembali menunjukkan kualitasnya sebagai istri. Ia tidak pernah mengeluh meski setiap akhir minggu menjamu makan banyak pemuda dan mahasiswa Indonesia di rumah mereka yang kecil. Dr. Soetomo memberi wejangan dan diskusi tentang nasionalisme Indonesia. Everdina memasak nasi goreng yang sangat disukai mahasiswa sebagai obat kangen akan Indonesia. Di Amsterdam kehidupan perkawinan mereka dipenuhi rasa saling menghargai satu sama lain.

Empat tahun dr. Soetomo merampungkan pendidikannya dan kembali ke tanah air. ”Rakyat Indonesia membutuhkan pemimpin sebanyak²nya yang akan membimbing mereka mencapai cita² perjuangan,” katanya. Keduanya tetap bahagia meski belum dikaruniai anak.Sampai di tanah air, dr. Soetomo diangkat menjadi dosen Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin di NIAS (Nederlandsc Indische Artsen School) Surabaya, lalu memimpin berbagai perkumpulan di masyaakat hingga akhirnya membentuk PARINDRA (Partai Indonesia Raya). Dengan segudang kegiatan, tanggung jawab istrinya juga semakin bertambah banyak dan berat. Namun Everdina menjalaninya tanpa keluhan, dr. Soetomo sering terharu melihat pengorbanan sang istri.

Cuaca Surabaya yang panas dan lembab ternyata mempengaruhi kondisi Everdina yang kelewat keras bekerja di garis belakang. Dibalik ketegarannya dan semangat yang luar biasa, tubuhnya makin rapuh. Atas anjuran sejawat dokter, dr. Soetomo mengajak istrinya tinggal di daerah berhawa sejuk Celaket Malang, di lereng Gunung Penanggungan. Sebuah keputusan yang sulit, karena mereka terpaksa harus berpisah sementar waktu, dua minggu sekali Soetomo baru mengunjungi sang istri.

Di tengah perjuangannya melawan penyakit yang mendera tubuhnya, Everdina tetap berhati mulia. Ia terus membantu penduduk dengan memberi obat-obatan, merawat luka dan memberi bantuan uang. Hingga takdir berkata lain, kondisi Everdina semakin lemah, hingga akhirnya menyerah, sang istri meninggal dengan tenang dipangkuan dr. Soetomo pada 17 Pebruari 1934.Prosesi pemakaman istri dr. Soetomo mendapat perhatian besar dari masyarakat Indonesia dan Belanda. Dr. Soetomo menulis pidato yang dibacanya saat prosesi pemakaman dengan hati hancur. Naskah pidatonya sedemikian indah yang membuktikan cintanya yang teramat dalam kepada mendiang istri tercinta.Sepeninggal sang istri, dr. Soetomo tidak menikah lagi hingga ajal menjemputnya pada 29 Mei 1938 di usia 50 tahun. Hidupnya diabadikan untuk kesetiaan terhadap cinta kepada istri maupun nusa dan bangsa Indonesia.

"Pagelaran Drama Tari Si Pitung"
Pada abad ke-19 sejak Pemerintahan Hindia Belanda di Daerah distrik penguasa Colomial Belanda yang dipimpin oleh seorang Jenderal bernama Tuan Schout Heyne telah menguasai tanah Betawi, dan mulai terasa kekejaman serta kekejian yang dilakukan oleh Belanda terhadap bangsa pribumi terutama rakyat kecil.Kejadian demi kejadian silih berganti, maka muncullah para jawara-jawara muda dari Betawi yang lahir di tengah masyarakat Rawa Belong sehingga membuat namanya terkenal di Tanah Betawi. Si Pitung kemudian menjadi target dan incaran bagi para Tuan tanah dan Kompeni Belanda yang pada akhirnya ia menjadi musuh no.1 di Betawi. Pengejarannya pun dilakukan sampai ke tempat perguruannya di daerah Rawa Belong dan terjadilah pertempuran sengit sehingga Si Pitung tertembak oleh Tuan Schout Heyne sampai akhirnya Ia menemui ajalnya. Kematiannya meninggalkan duka lara yang dalam di hati rakyat Betawi dan akhirnya nama Si Pitung dikenal Kepahlawanannya sebagai seorang pembela kebenaran dan kaum kecil oleh masyarakat setempat dan menjadi cerita yang bersifat Epos (Kepahlawanan).

Sejarah Makam Mbah Priok

Makam Habib Hasan bin Muhammad Al Haddad atau lebih dikenal dengan sebutan makam Mbah Priok, di Jl TPU Dobo, Koja, Jakarta Utara, belakangan ini mendadak heboh. Setidaknya nama makam ini menjadi perbincangan hangat tidak hanya di seantero DKI Jakarta, akan tetapi sudah ke seluruh pelosok Indonesia bahkan hingga dunia internasional. Persisnya, setelah pecah konflik dan bentrok fisik antara petugas Satpol PP DKI dengan massa pengikut ahli waris makam Mbah Priok.

Bentrok fisik terjadi saat petugas akan melakukan penertiban terhadap gapura dan pendopo makam tersebut, yang diduga tak memiliki izin mendirikan bangunan (IMB), Rabu (14/4) pagi. Namun aksi petugas ini dihalau oleh 400-an massa hingga terjadi bentrok fisik yang menyebabkan tiga petugas Satpol PP meninggal dunia dan seratusan lainnya mengalami luka berat dan ringan.

Mungkin, nama makam Mbah Priok ini tidak akan sepopuler sekarang ini, jika tak ada bentrok fisik hingga menimbulkan jatuhnya korban jiwa. Kendati sebelumnya memang, banyak orang yang sudah tahu atau bahkan rutin berziarah ke makam keramat tersebut. Akan tetapi jumlahnya tidak sebanyak sekarang ini.

Bagi sebagian umat Islam di Jakarta, utamanya yang aktif dalam sebuah pengajian atau majelis taklim, bisa jadi telah mengetahui asal usul makam tersebut. Karena memang sejarah makam tersebut, sangat erat kaitannya dengan nama tokoh ulama besar yang juga penyebar agama Islam di DKI Jakarta dan di Pulau Jawa pada abad ke-18.

Kala itu, bagi masyarakat, nama Habib Hasan bin Muhammad Al Haddad atau sekarang akrab disebut Mbah Priok, bukanlah tokoh biasa. Ia merupakan ulama besar, penyebar agama Islam dan seorang tokoh yang melegenda. Namanya bahkan jadi cikal bakal nama kawasan Tanjung Priok.

Mbah Priok bukan orang asli Jakarta, akan tetapi ia dilahirkan di Ulu, Palembang, Sumatera Selatan pada 1722 dengan nama Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Haddad R.A. Al Imam Al Arif Billah belajar agama dari ayah dan kakeknya, sebelum akhirnya pergi ke Hadramaut, Yaman Selatan, untuk memperdalam ilmu agama.

Menjadi penyebar syiar Islam adalah pilihan hidupnya. Pada 1756, dalam usia 29 tahun, ia pergi ke Pulau Jawa. Al Imam Al Arif Billah tak sendirian, ia pergi bersama Al Arif Billah Al Habib Ali Al Haddad dan tiga orang lainnya menggunakan perahu. Konon, dalam perjalanannya, rombongan dikejar-kejar tentara Belanda. Namun mereka tak takluk.

Dalam perjalanan yang memakan waktu dua bulan itu, perahu mereka dihantam ombak. Semua perbekalan tercebur ke laut, tinggal beberapa liter beras yang tercecer dan periuk untuk menanak nasi. Suatu saat, rombongan ini kehabisan kayu bakar, bahkan dayung pun habis dibakar. Saat itu, Mbah Priok memasukan periuk berisi beras ke jubahnya. Dengan doa, beras dalam periuk berubah menjadi nasi.

Cobaan belum berakhir, beberapa hari kemudian datang ombak besar disertai hujan dan petir. Perahu tak bisa dikendalikan dan terbalik. Tiga orang tewas, sedangkan Al Imam Al Arif Billah dan Al Arif Billah Al Habib harus susah payah mencapai perahu hingga perahu yang saat itu dalam posisi terbalik.

Dalam kondisi terjepit dan tubuh lemah, keduanya lalu shalat berjamaah dan berdoa. Kondisi dingin dan kritis ini berlangsung 10 hari, sehingga wafatlah Al Imam Al Arif Billah. Sedangkan Al Arif Billah Al Habib dalam kondisi lemah duduk di atas perahu disertai priuk dan sebuah dayung, terdorong ombak dan diiringi lumba-lumba menuju pantai.

Kejadian itu disaksikan beberapa orang yang langsung memberi bantuan. Jenazah Al Imam Al Arif Billah dimakamkan. Dayung yang yang sudah pendek ditancapkan sebagai nisan. Di bagian kaki ditancapkan kayu sebesar lengan anak kecil, yang akhirnya tumbuh menjadi pohon tanjung.

Sedangkan periuk nasi yang biasa digunakan untuk menanak beras secara ajaib diletakkan di sisi makam. Konon, periuk tersebut lama-lama bergeser dan akhirnya sampai ke laut. Banyak orang mengaku jadi saksi, 3 atau 4 tahun sekali periuk itu timbul di laut dengan ukuran sebesar rumah. (beritajakarta.com)

Berdasarkan kejadian itu, daerah tersebut akhirnya dinamakan dengan Tanjung Priuk. Nama Al Imam Al Arif Billah pun dikenal jadi `Mbah Priok. Sedangkan rekan perjalanan Mbah Priok, Al Arif Billah Habib Ali Al Haddad dikabarkan sempat menetap di daerah itu. Namun tak lama kemudian ia melanjutkan perjalanannya hingga berakhir di Sumbawa.

Mulanya, makam asli Mbah Priok ada di kawasan Pondok Dayung. Namun pada suatu saat, makam ini dipindahkan ke lokasi yang ada sekarang, di Jl TPU Dobo, Koja. Ironisnya, semakin berkembangnya kemajuan zaman, di kawasan pemakaman tersebut tumbuh kawasan pelabuhan terpadu Tangjungpriok. Hingga akhirnya, makam ulama besar ini posisinya berdampingan dengan terminal peti kemas (TPK) Koja dan pemukiman warga.

Masyarakat pun tak mempedulikannya, setiap saat selalu ziarah dan takziah di makam tersebut. Sholawat dan salam, takbir, tahmid senantiasa berkumandang di tempat tersebut. Bahkan setiap Kamis malam, umat muslim selalu berzikir, berdoa bersama, dan menggelar pengajian secara rutin. Umat muslim yang datang bukan hanya warga ibu kota, akan tetapi juga berasal dari berbagai pelosok di negeri ini. Biasanya kegiatan tersebut selalu diselingi dengan acara makan bersama, yang disajikan oleh para ahli waris makam tersebut.

Kodrat berdampingan dengan pelabuhan ini pula, nampaknya yang menjadi pemicu terjadinya konflik. Apalagi PT Pelindo mengklaim bahwa sebagian lahan yang digunakan dengan ahli waris adalah miliknya, sesuai dengan hak pengelolaan lahan (HPL) Nomor 01/Koja dengan luas 1.452.270 meter persegi.

Sengketa kepemilikan tanah ini pun diajukan gugatan oleh Habib Muhamman bin Achmad selaku ahli wais makam Mbah Priok kepada Pengadilan Negeri Jakarta Utara dengan nomor perkara 245/Pdt.G/2011/PN.Jkt.Ut. Selain itu juga telah dikeluarkan putusan PN Jakarta Utara pada 5 Juni 2001 dengan amar putusan bahwa gugatan penggugat tidak dapat diterima. Pertimbangan hukumnya adalah kuasa hukum penggugat tidak sah, gugatan penggugat tidak jelas dan kurang pihak.

Mendengar hal itu, ahli waris Mbah Priok beserta pengikutnya mengajukan protes. Mereka mengklaim bidang tanah ini milik ahli waris dan bukan milik PT Pelindo II. Klaim dinyatakan berdasarkan Eigendom Verponding No.4341 dan No.1780. Namun setelah dilakukan penelitian kembali oleh Kantor Pertanahan Jakarta Utara, tanah tersebut dinyatakan telah tertulis sebagai milik PT Pelindo II.

Kantor Pertanahan Jakarta Utara telah mengeluarkan surat tertanggal 6 Februari No 182/09.05/HTPT tentang permintaan penjelasan status tanah makam Al Haddad. Dalam surat tersebut dinyatakan status tertulis tanah di Jl Dobo atas nama Gouvernement Van Nederlandch Indie dan telah diterbikan sertifikat hak pengelolaan No 1/Koja utara atas nama Perum Pelabuhan II.

Setelah ada pembicaraan dengan ahli waris, disepakati makam dan kerangka Mbah Priok dipindahkan ke TPU Semper, Jakarta Utara pada 21 Agustus 1995. Sedangkan makam lainnya atau sebanyak 28.300 kerangka juga telah dipindahkan ke TPU Semper pada tahun 1995, sebagian kerangka ada yang dibawa ke luar kota sesuai permintaan ahli waris

Namun, pada September 1999, makam Mbah Priok dibangun kembali di lokasi bekas TPU Dobo, diikuti dengan satu bangunan liar berupa pendopo tanpa izin dari PT Pelindo II dan tidak memiliki IMB dari Dinas Pengawasan dan Penertiban (P2B) DKI Jakarta. Tentunya ini melanggar ketentuan UU No 51/Prp/ tahun 1960 tentang Larangan Pemakaian Tanah tanpa ijin yang berhak atau kuasanya.

Dengan dasar itulah, Pemprov DKI melakukan pembongkaran terhadap gapura dan pendopo itu. Alasan pembongkaran baru dilakukan sekarang karena tanah itu sudah diserahterimakan ke PT Pelindo II. Sehingga sudah menjadi tanggung jawab Pelindo II. Namun kemudian, PT Pelindo II meminta bantuan hukum kepada Pemprov DKI untuk membongkar bangunan liar tersebut, maka Pemprov DKI pun siap membantu melakukan penertiban bangunan karena dalam hal izin telah melanggar aturan yaitu tidak ada IMB.

Terkait hal tersebut, Kepala Bidang Informasi Publik Dinas Kominfo dan Kehumasan Pemprov DKI Jakarta, Cucu Ahmad Kurnia, mengatakan, Pemprov DKI tidak akan membongkar makam Mbah Priok, akan tetapi hanya membongkar gapura dan pendopo yang ada di areal makam tersebut. “Sedangkan makam Mbah Priok tidak akan dibongkar dan justru akan dibuat monumen agar lebih bagus lagi dan tetap dapat dikunjungi warga. Karena kami tidak pernah melarang warga untuk mengunjungi makam tersebut,” kata Cucu, Jumat (16/4).

Wakil Walikota Jakarta Utara, Atma Sanjaya mengatakan, penertiban gapura dan pendopo di makam Mbah Priok ini sesuai dengan instruksi gubernur DKI nomor 132/2009 tentang penertiban bangunan. Sebab bangunan tersebut berdiri di atas lahan milik PT Pelindo II, sesuai dengan hak pengelolaan lahan (HPL) Nomor 01/Koja dengan luas 1.452.270 meter persegi.

Konon pada tahun 1990-an makam ini juga pernah digusur dengan menggunakan alat berat jenis buldozer. Namun bukan kuburannya yang terbongkar, akan tetapi alatnya yang rusak dan operatornya esok harinya jatuh sakit. Padahal alat yang digunakan ini adalah buldozer dengan kondisi baru. Makam itu sudah berada ratusan tahun yang lalu, nama dari makam keramat itu adalah Al Habib Hasan Muhammad Al Haddad.

Belakangan tahun 2010, Pemprov DKI akan membongkar bangunan gapura dan pendopo yang dinilai tak ada izin mendirikan bangunannya. Namun upaya tersebut ditentang oleh seluruh pengikut Habib Zainal selaku ahli waris makam Mbah Priok tersebut.

Buntutnya, konflik hingga bentrok fisik pecah pada Rabu (14/) pagi hingga malam, saat 2000-an Satpol PP akan membongkar gapura dan pendopo yang ada di areal makam tersebut. Sekitar 400-an massa pengikut ahli waris makam Mbah Priok melakukan perlawanan. Mereka membekali diri dengan sejumlah peralatan mulai dari batu, ketapel, balok, potongan besi, hingga senjatan tajam jenis celurit, golok, serta bom molotov.

Massa kadung emosi lantaran tak terima makam tempat ziarah mereka diacak-acak. Kondisi ini kian memanas setelah disulut banyaknya selebaran gelap yang menyebutkan bahwa makam tersebut akan dibongkar, hingga rata dengan tanah dan lahannya akan diambil PT Pelindo. Padahal, sejak awal, Pemprov DKI menegaskan bahwa yang dibongkar itu hanya gapura dan pendoponya. Sedangkan makamnya, justru akan dipercantik, ditata, dan dibuatkan sebuah monumen. Bahkan makam tersebut akan dicatatkan sebagai bangunan cagar budaya yang memiliki sejarah tinggi.

Toh penjelasan Pemprov DKI ini sudah tak didengar lagi. Yang ada saat itu adalah hanya ada satu kata “lawan”. Tak heran massa pengikut ahli waris makam ini melakukan perlawanan pada petugas bahkan mereka rela mati demi sebuah pengabdian pada sang habib. Bentrok fisik pecah, tiga nyawa anggota Satpol PP melayang sia-sia, sedangkan seratusan orang lainnya, mengalami luka ringan dan luka parah hingga sekarat dan harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit.

Tragedi berdarah ini memicu kemarahan umat Islam di wilayah lain. Mereka merasa disakiti, diiris-iris hatinya sehingga memberikan dukungan dan membanjiri kawasan Jakarta Utara. Gelombang aksi demo besar-besaran pun terjadi pada saat itu. Ratusan massa mengepung dan mengancam kantor walikota Jakarta Utara. Bahkan RSUD Koja pun tak luput dari serbuan massa. Mereka membabi buta, membakar seluruh mobil Satpol PP yang ada. Aksi penjarahan pun terjadi, seluruh bangkai kendaraan Satpol PP dan polisi, dipreteli. Sweeping terhadap anggota Satpol PP pun terus dilakukan hinga malam hari.

Pada esok harinya, Kamis (15/4), ribuan massa kembali turun ke jalan, mereka berunjuk rasa di depan Balaikota DKI di Jl Medan Merdeka Selatan. Tuntutannya adalah agar Pemprov DKI bertanggung jawab terhadap insiden ini dan menuntut agar Satpol PP dibubarkan. Beruntung, aksi yang dikawal oleh 1000-an anggota kepolisian dari Polda Metro Jaya dan Polres Jakarta Pusat ini tak berujung pada tindakan anarkis. Aksi tersebut berjalan damai.

Pada saat itu pula, tepatnya pukul 14.30, Pemprov DKI menggelar mediasi untuk menyelesaikan kasus makam Mbah Priok. Mediasi dipimpin oleh Wakil Gubernur DKI Jakarta Prijanto, dengan dihadiri oleh para ahli waris makam Mbah Priok beserta beberapa pengacaranya dan Dirut PT Pelindo RJ Lino. Kapolda Metro Jaya Irjen Wahyono. Selain itu, hadir pula dari MUI, Komnas HAM, tokoh masyarakat, dan sebagainya.

Dari mediasi tersebut, melahirkan 9 poin kesepakatan yang harus dilaksnakan oleh pihak bertikai. Diharapkan, tidak ada lagi konflik atau bentrok fisik paska dikeluarkannya sembilan kesepakatan itu. “Mediasi ini menghasilkan 9 kesepakatan bersama yang diharapkan bisa membawa berkah dan kedamaian bagi Jakarta,” kata Prijanto, Wakil Gubernur DKI Jakarta, saat menjadi mediator antara ahli waris dan PT Pelindo, di Balaikota DKI, Kamis (15/4).

Ke-9 kesepakatan itu adalah, makam Mbah Priok tidak akan dipindah. Kemudian pendopo majelis taklim dan gapura makam akan digeser posisinya agar tidak mengganggu aktivitas pelabuhan serta terminal yang berfungsi sesuai standar internasional. “Terkait posisi gapura dan pendopo majelis akan digeser ke sebelah mana, kita serahkan kepada ahli waris dan PT Pelindo serta para tokoh agama,” ujarnya.

Kesepakatan berikutnya adalah, sisa tanah yang tengah dalam sengketa akan terus dibicarakan oleh kedua belah pihak hingga ditemukan solusinya. Untuk peristiwa bentrokan massal antara Satpol PP dan warga akan diserahkan pada hukum yang berlaku. Kesepakatan berikutnya adalah perlunya mengajak serta tokoh mayarakat dan tokoh agama untuk penyelesaian masalah. Kemudian PT Pelindo menyetujui untuk membuat MoU (perjanjian) hasil pembicaraan lebih lanjut dengan ahli waris.

Selanjutnya secara administrasi PT Pelindo II akan berkomunikasi dengan pihak ahli waris melalui tembusan Komisi A DPRD DKI Jakarta. Kemudian, PT Pelindo dan Pemprov DKI akan memperhatikan orang-orang yang menjadi korban dalam bentrokan pada Rabu (14/4) kemarin. Yakni biaya berobat di rumah sakit dan juga berobat jalan para korban bentrokan akan ditanggung oleh Pemprov DKI. Kesepakatan terakhir atau kesembilan adalah, pembicaraan antara ahli waris dan Pelindo akan dilangsungkan di Komnas HAM pada Jumat (16/4).

Ahli waris Habib Hasan Muhammad Al Haddad alias Mbah Priok yakni Habib Alwi Al Haddad, mengaku puas dengan hasil pertemuan ini. Ia berharap, pihak Pelindo tidak akan mengingkari sembilan kesepakatan yang telah dibacakan oleh Wagub Prijanto itu. Sebab selama ini, pihak ahli waris sudah merasa lelah dan tidak menginginkan lagi adanya pertikaian. “Secara keseluruhan saya puas dengan hasil pertemuan ini,” ucap Habib Alwi al Haddad.

Dirut PT Pelindo II, RJ Lino, menyetujui hasil pertemuan mediasi ini dan berjanji akan mematuhi seluruh kesepakatan. Salah satu kesepakatannya adalah untuk merenovasi dan memindahkan pendopo bersama-sama ahli waris. “Kita menyepakati hasil pertemuan, termasuk merenovasi pendopo dan juga akan dibuatkan Underground Tunnel serta tempat parkir di Jl Jampea. Kita juga akan membangun pagar di sekelilingnya agar tidak mengganggu kegiatan pelabuhan,” ucapnya.